Stunting merupakan salah satu masalah kesehatan yang masih menjadi perhatian serius di Indonesia. Stunting adalah kondisi dimana tinggi badan anak lebih rendah dibandingkan rata-rata usianya akibat kekurangan gizi kronis. Masalah ini tidak hanya berdampak pada pertumbuhan fisik, tapi juga berpengaruh pada perkembangan kognitif dan kesehatan jangka panjang. Maka, pencegahan stunting sejak dini sangat penting dilakukan. Data dari berbagai sumber menunjukkan bahwa angka stunting di Indonesia cukup tinggi, terutama di daerah-daerah dengan akses kesehatan yang terbatas. Maka dari itu, penting sekali untuk melakukan edukasi pencegahan stunting secara efektif, salah satunya melalui jalur pendidikan. Salah satu pendekatan yang bisa dilakukan adalah melalui Gerakan Aksi Bergizi Serentak (GABS) di Sekolah dengan Pemberian Tablet Tambah Darah (TTD).

Picture70

Dengan tingginya angka stunting di Grobogan bulan juli  sebesar 6.382 Balita (7,5%)  dengan itu ada beberapa tindakan yang dilakukan untuk menurunkan angka stunting selain dengan adanya kegiatan GABS pada Reamaja Sekolah juga Pemberian Makanan Tambahan (PMT) pada Ibu Hamil Kekurangan Energi Kronis (KEK) dan Balita denga masalah gizi. Sejak tahun 2023 November Dinas Kesehatan sudah memberikan program Pangan Olahan untuk Kondisi Medis Khusus (PKMK) berupa Susu Isocal dengan rekomendasi Dokter Spesialis Anak untuk mendapatkan susu tersebut. Kemudian, di Tahun 2024 dengan adanya Dana Bantuan Keuangan Provinsi, Balita yang mengalami masalah gizi stunting diberikan susu PDK (Pangan Olahan untuk Diet Khusus).

Susu PDK diberikan di 14 Puskesmas. Setiap anak mendapatkan 8 dus untuk 1 bulannya, sehingga 1 minggu harus menghabiskan 2 dus susu. Dalam pemberian susu PDK ini memang ada yang signifikan mengalami kenaikan berat badan dalam satu bulan, ada juga yang tidak mengalami kenaikan. Factor yang menjadi ketidakberhasilan daalam kenaikan berat badan dikarenaakan adanya infeksi berulang seperti ispa / pilek dan batuk selain factor tersebut balita juga terkadang mengalami kebosanan dalam konsumsi susu PDK bahkan awal-awal ada yang mengalami diare ketika pemberian.

Sampai detik ini progress pemberian susu PDK kurang lebih 75-80% Balita setelah diberikan susu PDK mengalami kenaikan berat badan yang signifikan  dibanding dengan pemberian PMT Berbahan dasar Lokal. Berikut data stunting bulan agustus diwilayah Dinas Kesehatan berserta Intervensi yang sudah diberikan:

Picture71

Picture73

Picture72