Perkembangan pembangunan kesehatan di Kabupaten Grobogan dipengaruhi oleh beberapa faktor di antaranya pemenuhan sarana dan prasarana pelayanan kesehatan menyeluruh yang dekat dengan masyarakat. Kondisi sarana dan prasarana pelayanan kesehatan tahun 2015 secara rinci seperti pada tabel berikut :

Tabel Kondisi Sarana dan Prasarana Pelayanan Kesehatan Tahun 2015

No

Sarana/Prasarana

Jumlah

Kondisi

Baik

Sedang

Rusak

1.

Rumah Sakit

7

7

-

-

2.

Puskesmas

30

14

4

12

2.

Puskesmas Pembantu

69

26

26

17

3.

Klinik

22

22

-

-

      Sumber : Dinas Kesehatan Kab. Grobogan.

 

Adapun indikator keberhasilan pembangunan kesehatan dapat diukur dengan Angka Kematian Bayi (AKB), Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Balita (AKABA), dan Prevalensi Gizi Buruk Balita. Perkembangan AKB, AKI, AKBA, dan prevalensi gizi buruk pada balita tahun 2011 sampai tahun 2015 seperti pada tabel berikut :

 

Tabel Angka Kematian Ibu, Angka Kematian Bayi dan Prevalensi Gizi Buruk Kabupaten Grobogan Tahun 2011 – 2015

No

Indikator Kinerja

Capaian Kinerja Indikatif

2011

2012

2013

2014

2015

1.

AKB/1000 KH

8,78

10,60

14,14

17,82

17,44

2.

AKI/100.000 KH

114,03

150,12

101,10

188,69

149,92

3.

AKABA/1000 KH

9,12

11,61

15,72

19,53

18,99

4.

PREVALENSI GIZI BURUK BALITA

0,03

0,03

0,05

0,06

0,05

Sumber : Dinas Kesehatan Kab. Grobogan.

 

Angka Kematian Bayi (AKB)

Angka kematian bayi (AKB) merupakan banyaknya kematian bayi umur kurang dari 1 tahun (0–11 bulan) per 1.000 kelahiran hidup dalam kurun waktu satu tahun. Angka kematian bayi menggambarkan tingkat permasalahan kesehatan masyarakat yang berkaitan dengan faktor penyebab kematian bayi, tingkat pelayanan antenatal, status gizi ibu hamil, tingkat keberhasilan program KIA dan KB, serta kondisi lingkungan dan sosial ekonomi masyarakat.

Berdasarkan tabel I.15, AKB di Kabupaten Grobogan tahun 2015 sebesar 17,44/1.000 kelahiran hidup (KH) dan bila dibandingkan dengan tahun 2014 sebesar 17,82/1.000 KH, AKB mengalami penurunan. Secara nasional sesuai target sasaran strategis dalam pembangunan kesehatan Kementerian Kesehatan tahun 2011-2015 yaitu 24 per 1.000 KH, AKB di Kabupaten Grobogan masih di bawah angka tersebut. Walaupun telah menunjukkan penurunan, namun bila dibandingkan dengan Indikator Rencana Aksi Daerah Millenium Development Goals (RAD MDGs)  Provinsi Jawa Tengah yang ditargetkan sebesar 9,1/1.000 KH, Kabupaten Grobogan belum dapat mencapai target tersebut, demikian juga untuk target RAD MDGs Kabupaten Grobogan 2011-2015 maupun indikator kinerja Renstra Dinas Kesehatan Kabupaten Grobogan yang masing-masing menargetkan sebesar 8,5/1.000 KH pada tahun 2015.

 

Angka Kematian Ibu (AKI)

Angka  kematian ibu (AKI) dihitung semasa kehamilan, persalinan dan masa nifas yang  mempunyai manfaat sebagai gambaran risiko dihadapi oleh ibu selama kehamilan dan melahirkan. Hal ini dipengaruhi  oleh keadaan sosial ekonomi, keadaan kesehatan yang kurang baik menjelang kehamilan, kejadian berbagai komplikasi pada kehamilan dan kelahiran, tersedianya dan penggunaan fasilitas pelayanan kesehatan termasuk pelayanan prenatal dan obstetrik.

Kematian ibu adalah kasus kematian perempuan yang diakibatkan oleh proses yang berhubungan dengan kehamilan (termasuk hamil ektopik), persalinan, abortus (termasuk abortus mola) dan masa dalam kurun waktu 42 hari setelah berakhirnya kehamilan tanpa melihat usia gestasi. Angka kematian ibu di Kabupaten Grobogan tahun 2015 sebesar 149,92/100.000 kelahiran hidup (KH) dan bila dibandingkan tahun 2014 sebesar 188,69/100.000 KH, angka tersebut juga menunjukkan penurunan. Namun apabila dibandingkan dengan target MDGs ke-5 tahun 2015 sebesar 102 per 100.000 dan target Provinsi Jawa Tengah sebesar 60/100.000 KH, Kabupaten Grobogan belum dapat mencapai target tersebut.

 

Angka Kematian Balita (AKABA)

Angka Kematian Anak Balita (AKABA) adalah kematian anak balita (12 – 59 bulan) per 1.000 kelahiran hidup. Angka kematian balita mempunyai manfaat untuk mengetahui gambaran tingkat permasalahan  kesehatan anak balita, tingkat pelayanan KIA, tingkat keberhasilan program KIA dan menilai kondisi sanitasi lingkungan.

Angka kematian balita di Kabupaten Grobogan tahun 2015 sebesar 18,99/1.000 KH, sedangkan pada tahun 2014 sebesar 19,53/1.000 KH, artinya AKABA di Kabupaten Grobogan mengalami penurunan. Selanjutnya bila dibandingkan dengan target MDGs ke-4 tahun 2015 yaitu 32 per 1.000 kelahiran hidup, AKABA di Kabupaten Grobogan masih sesuai target, namun bila dibandingkan RAD MDGs Provinsi Jawa Tengah sebesar 12,01/1.000 KH, RAD MDGs Kabupaten Grobogan dan indikator kinerja Renstra Dinas Kesehatan Kabupaten Grobogan tahun 2015 yang masing-masing 9,3/1.000 KH, Kabupaten Grobogan belum dapat mencapai target tersebut, walaupun AKABA telah mengalami penurunan.

Permasalahan AKI, AKB dan AKABA di Kabupaten Grobogan memerlukan usaha keras dan dukungan semua pihak untuk menurunkannya. Upaya yang sudah dilaksanakan antara lain :

Kebijakan persalinan di Fasilitas Pelayanan Kesehatan (Fasyankes) sebagai upaya menjamin persalinan dikelola oleh tenaga kesehatan yang terampil dan kompeten dengan ditunjang sarana prasarana yang memadai termasuk kesiapan sistem rujukan. Kebijakan yang cukup tegas ini memberikan inspirasi kepada Kementerian Kesehatan R I, sehingga Dinas Kesehatan kabupaten Grobogan telah 2 (dua) kali didaulat menjadi nara sumber pada pertemuan yang diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan.

Pemantauan kinerja klinis untuk pelayanan ibu dan bayi baru lahir pada 10 (sepuluh) Puskesmas dengan dukungan Program Expanding Maternal and Neonatal Survival (EMAS) untuk memotivasi agar peralatan dan pelayanan yang diberikan sesuai standar.

Short Massage Service (SMS) bunda yaitu layanan sms ke nomor 08118469468 yang secara berkala memberikan pesan kepada ibu dan keluarganya tentang kehamilan dan pasca persalinan serta bayi dan anak umur usia 2 tahun. Sejak diluncurkan pada Bulan Agustus 2015, Kabupaten Grobogan mempunyai cakupan tertinggi se- Indonesia.

Menambah bidan baru untuk meningkatkan jangkauan pelayanan kebidanan khususnya pada desa yang sulit akses pelayanan kesehatannya.

Meningkatkan ketrampilan teknis kebidanan dan bayi baru lahir bagi dokter pada 30 Puskesmas dan dokter fasilitas pelayanan kebidanan swasta dengan mendapat dukungan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Kabupaten Grobogan.

Meningkatkan ketrampilan bidan dalam pelayanan kebidanan dan neonatus yang didukung oleh Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Cabang Kabupaten Grobogan dan IDI.

Bimbingan teknis fokus pada peningkatan cakupan pelayanan kehamilan, persalinan dengan partograf dan ibu nifas termasuk bayi baru lahir dengan Manajemen Terpadu bayi Muda (MTBM) pada 30 Puskesmas.

Penyediaan peralatan pelayanan kehamilan, persalinan, dan nifas serta bayi baru lahir secara mandiri oleh Puskesmas dengan menggunakan dana JKN (Jaminan Kesehatan nasional) pada 30 Puskesmas. Disamping itu juga mendapat dukungan dari Kementerian Kesehatan melalui bantuan paket bidan kit sebanyak 146 paket.

Rehab pembangunan ruang bersalin di Puskesmas menggunakan dana APBD Kabupaten Grobogan pada 5 (lima) Puskesmas.

Upaya-upaya yang dilaksanakan dan telah menunjukkan hasilnya ini akan terus ditingkatkan pada tahun 2016 yang akan datang. Disamping upaya-upaya yang telah berjalan tersebut, upaya baru yang akan dikembangkan diantaranya :

Rehab pembangunan ruang bersalin di Puskesmas menggunakan dana APBD Kabupaten Grobogan sebanyak 12 (dua belas) Puskesmas.

Peningkatan kapasitas Puskesmas dalam pelayanan kebidanan, persalinan dan pelayanan bayi baru lahir dengan membangun Puskesmas PONED (Pelayanan Obstetrik Neonatus Emergensi Dasar  sebanyak 5 (lima) Puskesmas dengan dukungan dana APBN.

Rumah Tunggu Kelahiran (RTK) untuk mempersiapkan ibu dua hari sebelum melahirkan dan tiga hari perawatan setelah melahirkan bagi 6.320 ibu hamil, rujukan bagi 5.820 ibu hamil risiko tinggi dan 500 ibu hamil di desa terpencil.

Pengembangan jejaring dengan Centre of Indonesia’s Strategic Initiative (CISID) yaitu suatu lembaga swadaya masyarakat yang fokus pada peningkatan kualitas pelayanan kesehatan dengan memberikan pendampingan pada tiga Puskesmas selama tiga tahun.

 

Gizi Buruk

Pendataan gizi kurang dan gizi buruk didasarkan pada 2 kategori, kategori pertama membandingkan berat badan dengan umurnya (BB/U) dan kategori kedua membandingkan berat badan dengan tinggi badannya (BB/TB). 

Skrining pertama dilakukan di Posyandu dengan kategori pertama yaitu membandingkan berat badan dengan umurnya melalui kegiatan penimbangan. Jika ditemukan kasus gizi kurang/buruk dilakukan perawatan gizi kurang/buruk sesuai pedoman di Posyandu dan Puskesmas, dilanjutkan dengan skrining berikutnya yaitu dengan membandingkan berat badan dengan tinggi badannya, jika ternyata menderita gizi buruk maka dilakukan perawatan sesuai standar sampai di Rumah Sakit.

Prevalensi Balita dengan Gizi Buruk di Kabupaten Grobogan selama kurun waktu tiga tahun terakhir terjadi kenaikan. Pada tahun 2014 prevalensi gizi buruk sebesar 0,06% dan pada tahun 2015 sebesar 0,05% yang menunjukkan penurunan. Prevalensi gizi buruk tahun 2015 bila dibandingkan dengan RAD MDGs Kabupaten Grobogan dan Indikator Renstra Dinas Kesehatan Kabupaten Grobogan tahun 2015 sebesar < 5% masih sesuai target.